Rela Sembunyi demi Mendapatkan Sesuap Ilmu

Pandemi melahirkan rasa rindu di benak para siswa. Bagaimana tidak? Berlarut-larut menghabiskan detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari menuju hari, bahkan hingga berganti tahun. Semua bermula dari asal pandemi.

Para siswa rindu dengan suasana sekolah. Yang paling mereka rindukan ialah dengan suasana sekolah yang menyenangkan. Mengapa tidak? Di sekolah mereka bisa bertemu dengan banyak teman. Menghabiskan waktu dengan belajar, canda tawa, pergi ke kantin, dan pulang bersama. Semua itu rasanya seperti hilang begitu saja diterpa oleh badai yang besar.

Pembelajaran jarak jauh saat ini belumlah terjangkau efektif untuk diberikan kepada para siswa. Mereka mayoritas lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersantai seperti tidur dan bermain. Di sisi lain waktu belajar mereka sangat sedikit saat pandemi seperti ini.

Pada umumnya, pembelajaran adalah sebuah proses interaksi antara peserta didik dan pendidik atau yang biasa disebut dengan siswa dengan guru serta sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang biasa dilaksanakan di lingkungan sekolah, baik itu yang diperoleh adalah ilmu pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat maupun pembentukan sikap dan kepercayaan pada siswa. Proses seperti inilah yang dapat membantu generasi muda saat ini agar dapat belajar dengan baik.

Pembentukan sikap percaya diri pada siswa membutuhkan proses yang lama dan tempat yang khusus. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi juga dalam lingkungan sekolah. Hal tersebut dikarenakan sekolah menjadi tempat interaksi antara guru dengan siswa. Dengan demikian, sekolah menjadi rumah kedua siswa untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Hal tersebut diperlukan untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang efektif bagi para siswa. Mereka rindu keceriaan di dalam kelas sebelum badai pandemi melanda seperti saat ini. Berlarut-larut mereka hanya menghabiskan waktu di rumah dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan hingga tahun berganti hanya dengan bermain ponsel, dan mengerjakan tugas. Lantas bagaimana dengan waktu bersantai para siswa?

Pembelajaran yang efektif sangatlah berpengaruh dan menentukan tujuan masa depan generasi emas saat ini. Apa jadinya jika pembelajaran yang kurang efektif terus-menerus diberikan untuk para generasi emas Indonesia? Mereka akan bingung mencari jati diri dan kepercayaan diri.

Setiap tahun para siswa naik kelas dan hanya mendapatkan nilai pengetahuan saja. Akan tetapi, sikap dan jiwa mereka tidak terlatih sehingga aplikasi terhadap konsep dan pengetahuan yang selama ini didapat hanya menjadi angin lalu. Hal ini berpengaruh pada rasa percaya diri dan rasa keberanian mereka untuk berinteraksi dengan orang lain ataupun orang baru dirasa kurang.

Beberapa respon siswa yang belajar selama pandemi ini beraneka ragam. Salah satunya adalah menurut siswa SMA swasta di Jawa Timur, M. Iqbal. Menurutnya pembelajaran tatap muka terbatas tetap kurang bila dibandingkan pembelajaran sebelum pandemi, tetapi setidaknya pembelajaran terbatas masih lebih bagus dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak tatap muka sama sekali.

Aliran ilmu yang dimiliki oleh para guru sebisa-bisanya diupayakan agar bisa diterima oleh para siswa. Para guru berusaha keras agar ilmu yang mereka miliki bisa diajarkan dan bisa disampaikan kepada para siswa. Mereka akan melakukan berbagai upaya, berbagai cara, dan menghadapi berbagai rintangan. Tujuannya adalah agar para siswa selalu mendapatkan ilmu walaupun itu hanya sesuap di masa pandemi ini. “Bapak hanya bisa berusaha dan berdoa yang terbaik untuk generasi emas saat ini,” ujar salah satu guru SMA di Jawa Timur.

Pandemi melanda, tetap tatap muka walaupun peraturan menghantui mereka. Itu salah satu upaya yang bisa dilakukan beberapa lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Misalnya dalam lingkungan pendidikan pondok pesantren, lingkungan pendidikan negeri, dan lembaga pendidikan swasta yang ada di tengah masyarakat.

Sekolah tetap mengadakan pembelajaran tatap muka menggunakan cara tersendiri untuk menghindari pengawasan para aparat. Cara yang dipilih adalah melakukan proses pembelajaran bukan dalam lingkungan sekolah, tetapi lingkungan luar sekolah. Sebut saja pembelajaran dari rumah guru yang dekat dengan sekolah, ataupun tempat umum yang sekiranya aman untuk mengadakan suatu pembelajaran tatap muka.

Prosedur pembelajaran tatap muka memiliki aturan. Pertama, terkait dengan waktu. Waktu untuk pembelajaran tatap muka diatur dalam sistem shift. Maksudnya adalah adanya sistem bergantian untuk belajar di sekolah antar satu kelas dengan kelas lainnya. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kerumunan di lingkungan sekolah yang berpotensi memperbesar risiko penyebaran virus Covid-19.

Para guru menyempatkan waktu mereka hanya untuk tetap berjalannya pembelajaran tatap muka. Alasan yang dipegang oleh mereka adalah karena bagi mereka pendidikan sikap dan karakter menjadi poin terpenting bagi siswa. Selain itu, mereka juga dapat menjadi bibit unggul yang mempunyai etika elok untuk negaranya. Para siswa juga dapat menjadi penerus yang lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.

Ilmu bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Akan tetapi, pendidikan sebuah karakter dan sikap yang baik, itu tidak sembarang tempat para siswa bisa mendapatkannya. Perlu adanya tempat khusus untuk melatih itu, tidak hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi lingkungan sekolah juga sangat sekali dibutuhkan.

Para siswa senang dengan adanya pembelajaran tatap muka kembali meskipun terbatas. Yang terpenting bagi mereka adalah bisa bertemu kembali dengan teman-teman mereka. Melakukan kebersamaan yang menyenangkan. “Gak punya teman tuh gak enak, rasanya sepi, gak seru,” ujar salah satu siswa SMA di Jawa Timur.

Para siswa berpikir, salah satu hal terbesar yang paling disesali ketika dewasa nanti adalah tidak punya ilmu. Karena ilmu itu segalanya. Kita tidak bisa apa-apa, kita tidak tahu apa-apa kalau tidak dengan ilmu.

Entah sampai kapan pandemi ini berakhir, entah sampai kapan para siswa bisa sekolah tatap muka kembali, semuanya tidak ada yang tau. Jika proses pembelajaran terus-menerus dilaksanakan secara daring maka, tidak ada pendidikan karakter dan sikap yang baik. Mau jadi apa negara ini jika generasi sekarang diberikan pendidikan yang dinilai terasa kurang? Mau jadi apa negara ini jika generasi sekarang tidak mempunyai etika yang baik?

Tidak semua orang memiliki harta yang banyak, tidak semua siswa yang meminta sesuatu kepada orang tuanya untuk kebutuhan belajar langsung diberi. Terkadang banyak siswa saat ini yang mana ekonomi orang tuanya tidak mampu, ataupun mereka terkadang harus bekerja terlebih dahulu baru bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Barulah mereka bisa belajar secara daring sama seperti yang lainnya.

Bagi mereka yang orang tuanya mampu, kebanyakan dari mereka didaftarkan ke tempat-tempat kursus ataupun tempat yang sekiranya mereka bisa mendapatkan ilmu. Orang tua mereka rela keluar uang lebih hanya untuk pendidikan anaknya untuk saat ini, agar mereka tetap mendapatkan ilmu meskipun proses belajar mengajar di sekolah dilakukan secara daring.

Hanya ilmu yang sekarang siswa inginkan, bukan larangan, tekanan, dan ancaman. Siswa rela sembunyi hanya untuk mendapatkan sesuap ilmu karena mereka  adalah generasi pendobrak untuk bangsa  yang lebih maju.

Oleh: Muhammad Umar/ XI MIPA 2

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code