Pentingnya Kesadaran Masyarakat akan Indahnya Keberagaman

Oleh: M. Arjazzaka Patria N (XI MIPA 01)

Sejuta keragaman, itulah kiranya yang dapat terlontar untuk negeri kita ini, Indonesia. Mengapa julukan tersebut diberikan kepada Indonesia? Sebut saja tentang masyarakatnya yang punya banyak perbedaan baik dari segi ras, agama, warna kulit, dan adat istiadat. Variasi perbedaan tersebut seyogyanya dapat tetap selaras dalam upaya meningkatkan persatuan dan kesatuan yang ada di Indonesia.

Secara historis, masih lekat dalam ingatan kita tentang Kongres Pemuda pertama pada 1926 yang berhasil mengumpulkan para pemuda militan dalam Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon. Mereka bersatu untuk membahas cara dalam mewujudkan cita-cita Indonesia untuk merdeka. Ide-ide yang mengerucut kepada aspek kesatuan adalah akar diskusi para pemuda tersebut.

Sayangnya, seiring bertambahnya tahun realitas persatuan bangsa justru semakin renggang. Etnosentrisme, egoisme, acuh terhadap lingkungan, dan perilaku-perilaku lainnya menjadi kondisi yang berkebalikan 180 derajat dengan marwah ide kesatuan di atas. Terlebih lagi dalam masa pandemi seperti ini, isu lemahnya persatuan bangsa tidak patut dipandang sebelah mata.

Mari kita perdalam ingatan pada Konflik Sampit yang erat kaitannya dengan isu SARA. Ya, insiden tersebut memang cukup terkenal di negara kita. Bukan kali pertama konflik antara Suku Dayak dan Suku Madura. Singkat cerita ketika penduduk Madura yang  pertama kali tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang direncanakan pemerintah Belanda. Sampai tahun 2000, transmigran Madura telah menempati seperlima dari penduduk Kalimantan Tengah.  Suku Dayak mulai merasa tersaingi atas kehadiran penduduk Madura yang terus berdatangan. Hukum baru juga telah membolehkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi tersebut, seperti perkayuan, penambangan, dan perkebunan. Hal tersebut menimbulkan permasalahan ekonomi yang kemudian menjalar menjadi kerusuhan antar-keduanya.  Kericuhan bermula saat terjadi serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Menurut pendapat sebagian warga, orang Maduralah yang menjadi pelaku pembakaran rumah Dayak tersebut.  Sesaat kemudian, warga Dayak pun mulai membalas dengan membakar rumah-rumah orang Madura. Pembantaian oleh suku Dayak dilakukan untuk mempertahankan diri setelah beberapa warga Dayak diserang. Terdapat isu juga bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi di Desa Kerengpangi pada akhir Desember 2001. Berbedanya adat antarsuku juga menjadi salah satu penyebab kericuhan seperti adat orang Madura yang selalu membawa celurit kemana pun mereka pergi. Hal itu membuat suku Dayak berpikir bahwa suku Madura siap untuk berkelahi. Ditambah lagi setelah terjadi perkelahian di tempat hiburan di desa pertambangan emas Ampalit. Salah seorang etnis Dayak bernama Sandong mati karena dibacok. Kejadian tersebut membuat keluarga Sandong tidak terima. Dua hari setelahnya, sejumlah 300 warga Dayak mencari pelaku atas pembunuhan tersebut. Akan tetapi, pelaku tidak ditemukan sehingga suku Dayak melampiaskan kemarahannya dengan merusak 9 rumah, 2 mobil, 5 motor, dan 2 tempat karaoke milik warga Madura. Pada 18 Februari 2001 suku Dayak berhasil menguasai wilayah Sampit, dan polisi pun menemukan seorang pejabat yang merupakan dalang di balik semua kericuhan ini. Terdapat enam orang yang dibayar oleh pejabat tersebut untuk memprovokasi konflik kedua suku ini. Dari konflik Sampit ini setidaknya 100 warga Madura dipenggal kepalanya oleh suku Dayak.

Konflik Sampit pun mulai mereda setelah petugas setempat meningkatkan keamanan, mengevakuasi warga, dan menangkap provokator.  Untuk mengakhiri konflik ini, dibuatlah perjanjian damai antara suku Dayak dengan Madura.  Guna memperingati perjanjian damai tersebut maka dibentuk sebuah tugu perdamaian di Sampit.

Sebagai generasi muda penyambung cita-cita persatuan bangsa, moderasi keberagaman sebaiknya disikapi sebagai kebutuhan berbangsa dan bernegara yang mendesak. Entah apa jadinya jika kita masih harus menunggu dan menunggu lagi untuk memperbaiki kondisi disintegrasi ini. Tampaknya segera adalah jawaban terbaik.

Dari beberapa contoh kasus/peristiwa yang sudah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa masih banyak individu yang salah dalam menyikapi adanya sebuah keberagaman dan justru menjadikannya sebagai ajang kompetisi antarkelompok. Hal itu tentunya tidak baik dan bertentangan dengan semboyan negara kita. Seharusnya keberagaman yang ada dapat membuat kita saling melengkapi satu sama lain. Selain itu, keberagaman juga dapat menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi negara kita ini. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus  bangsa wajib untuk mengubah pola pikir individu-individu tersebut. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan persatuan yang ada di Indonesia. Cara-cara tersebut dapat dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan terdekat kita seperti saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat, berteman dengan semua orang tanpa memandang agama, suku, status sosial dan juga warna kulit, menanamkan sifat tolong menolong dan gotong royong, serta menjalin hubungan antar-orang yang berbeda agama sehingga tercipta rasa toleran. Dengan demikian, perpecahan ataupun konflik antarkelompok dapat dihindari sedangkan persatuan kesatuan bangsa bisa tercipta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post