Pengajian Rutin Oleh : “K.H. Zaimuddin Wijaya As’ad, SU.”

Pengajian Rutin Oleh : “K.H. Zaimuddin Wijaya As’ad, SU.” post thumbnail image

Selasa 15 Juni 2024 SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT menyelenggarakan kegiatan pengajian yang merupakan kegiatan rutinan. Pengajian umum pada hari ini mengenai “Kesucian hati dalam menuntut ilmu”. Dalam kajiannya yang disampaikan oleh beliau K.H. Zaimuddin Wijaya As’ad, SU selaku Bendahara Majelis pondok pesantren darul ulum Jombang.

Beliau mengungkapkan “Mengapa perlu kesucian hati?, karena kesucian hati adalah prasyarat mutlak dalam beribadah, serta apa hubungan dari kesucian hati dengan mencari ilmu itu ibadah?, Jelas bahwa mencari ilmu dalam agama Islam adalah salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Serta Nabi Muhammad menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan. Kewajiban mencari ilmu telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan Hadits.

Menurut Imam Syafi’i bahwa “Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, maka ia akan menjadi keruh lalu membusuk”. Apabila kita mengetahui suatu ilmu, maka lebih baik kita menyampaikannya dan bukan menyembunyikananya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw  yang berbunyi,

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».

[صحيح] – [رواه البخاري]

Abdullah bin ‘Amr -raḍiyallāhu ‘anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

Penyakit sombong atau takabur adalah penyakit pertama yang akan turun kepada hati yang sakit

Seperti halnya kesombongan Iblis terhadap Nani Adam AS. dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 12.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Dalam ayat itu, tejadi dialog antara Allah swt. Dengan makhluk laknatullah itu. Allah menanyakan perihal keengganan Iblis sujud kepada Nabi Adam. “Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s., sekalipun Akulah yang memerintahkanmu?” “Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya (Nabi Adam a.s.) dari tanah,”

Dibawahnya takabur yaitu sifat riya’
Sifat riya’ dapat menghalangi amalan kita, sifat riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain agar keberadaannya baik ucapan, tulisan, sikap, maupun amal perbuatannya diketahui.

Kita dalam menuntut ilmu, tidak bisa maksimal kecuali terlebih dahulu mensucikan hati dari sifat dan akhlak tercela seperti rasa sombong, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, al-Ghazali mengutip sebuah hadits yang berbunyi,

بني الدين على النظافة

Artinya: “Agama dibangun atas dasar kebersihan.”

Ada beberapa dampak dari hati yang bersih dan suci diantaranya:

1. Orang yang hati nya bersih atau suci, mereka mudah fokus
2. Orang yang hati nya bersih atau suci, Termotivasi dan semangat
3. Orang yang hati nya bersih atau suci, Mudah dalam mennyerap nilai2 moral
4. Orang yang hati nya bersih atau suci, membantu keseimbangan emosi
5. Orang yang hati nya bersih atau suci, kreativitas dan inovasi

 

Semoga pengajian rutin ini meberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua.

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post